middle school essay sample https://greenechamber.org/blog/form-job-resume/74/ essay of goals and aspirations https://sugarpinedrivein.com/treatment/online-pharmacy-that-takes-paypal/10/ go here watch https://www.cei.utah.edu/wp-content/blogs.dir/15/files/2013/?speech=write-about-internet-essay how much does prescription viagra cost bagusan cialis atau viagra https://rainierfruit.com/viagra-femeninacom/ source url en que farmacias venden cialis en mexico deltasone 5mg vicodin cialis 5 mg von lilly http://jeromechamber.com/event/easy-essay-on-save-water/23/ https://medpsychmd.com/nurse/where-to-buy-flagyl-no-a-prescription-online/63/ canadian pharmacy with paypal ten steps to writing an essay source https://www.aestheticscienceinstitute.edu/medical/einnahmedauer-viagra/100/ go to link flodder bijwerkingen cialis thesis google maps fee essays cialis tablets in multan see viagra healthcare bill where can i ask for help to write biology paper pferdegel wirkung viagra custom essays and term papers que tan recomendable es tomar viagra essay advantage social networking Viky Sianipar (lahir di Jakarta pada 26 Juli 1976) merupakan seorang musisi, producer dan komponis, berkebangsaan Indonesia. Dia merupakan musisi/komponis bersuku Batak Toba, yang mampu memainkan berbagai alat musik modern dan tradisional. Berkarier di dunia musik sejak tahun 2002.

Pada suatu kesempatan Viky Sianipar bercerita bagaimana dia bisa menjadi musisi Batak. Aku(Viky Sianipar) ingin share sedikit tentang pengalamanku dulu jadi orang yang anti Batak. Memalukan sih, tapi mungkin dapat bermanfaat untuk anak muda Batak kelahiran Jakarta yang lain.Sejak kecil (hingga sekarang) aku tinggal di daerah pemukiman kampung Betawi di bilangan Jakarta Selatan, di sebuah gang semit yang rumahnya kecil-kecil dan saling berdempetan satu dengan lainnya.

Bahasa pengantar kami sehari-hari di rumah adalah Bahasa Indonesia. Walaupun ibuku orang Sunda, namun dia pandai sekali berbahasa Batak. Ayah dan ibuku berbahasa Batak hanya jika ada hal-hal rahasia yang mau dibicarakan diantara mereka supaya anak-anaknya tidak bisa mengerti.

Karena keterbatasan dana orang tua pada saat itu aku disekolahkan di satu sekolah dasar swasta dekat rumah yang mayoritas murid-muridnya juga penduduk sekitar. Tidak ada orang Bataknya sama sekali.

Ketika teman-temanku mengetahui bahwa aku ini orang Batak, aku mulai diejek-ejek dengan menirukan gaya bicara seperti logat Batak yang ada media-media elektronik itu. Awalnya aku cuek aja, tapi lama-lama jengkel juga. Aku coba cari cara untuk membela dengan berusaha mencari sesuatu yang dapat dibanggakan dari suku Batak. Dengan segala keterbatasan pengetahuanku, aku tidak mendapatkannya. Pada saat itu yang kutahu tentang Batak adalah pesta Bona Taon yang lama dan membosankan, cara bicara saudara-saudara dari Medan yang keras dan cenderung kasar, musik tolu batu dengan vokal trio yang melengking-lengking, pesta adat perkimpoian yang penataan makanannya jorok membuatku mual setiap kali menghadirinya.Jadi apa yang dapat kubanggakan dari Batak untuk bikin teman-temanku”ange”. Gak Ada!

Aku pun jadi kaum minoritas di sekolah. Dan aku benci itu. Alhasil aku menjadi sulit bergaul. Pernah suatu saat aku lewat di tengah halaman sekolah yang ramai, salah satu kakak kelas berteriak mengejeku, “woi, Batak.. mau kEmana kau? mEnarik MEtro Mini ya..Gorogol! TEbEt!” Semua anak di halaman itu tertawa terbahak-bahak sambil melihat kearahku. Aku malu sekali saat itu.

Mulai saat itu, bagiku kata “Batak” adalah hinaan. Aku pun mulai menyesali kenapa aku dilahirkan jadi orang Batak. Sejak saat itu, aku menyebut diriku orang Jakarta. Toh aku lahir dilahirkan di kota ini. Akupun tidak pernah lagi mau mencantumkan marga dibelakang namaku.

Di masa SMA, aku bersekolah di sekolah Katholik yang mayoritas Cina. Hal serupa terjadi lagi. Ada guru Sejarah bernama Pak Giyanto yang sangat kagum pada orang Batak. Setiap masuk kelas pertama kali, beliau selalu mencari orang Batak, “ada si ucok disini?” Aku takut sekali dan tidak mau mengangkat tanganku. Tetapi karena teman-teman satu kelas menolehkan pandangannya ke arahku, mau tidak mau akupun mengangkat tangan. Kembali aku jadi bahan pembicaraan orang banyak. Menyebalkan! Semakin besarlah rasa maluku menjadi orang Batak. Sampai-sampai pernah aku naksir cewe namun langsung hilfil begitu tau cewe itu boru Batak. (itu dulu lho….)

Untung saja di masa itu aku anak band yang sering tampil di acara-acara pensi sekolah, jadi masih banyak juga teman-teman yang respek denganku, terutama cewe-cewenya..hehehe. Untungnya lagi, teman-teman Cinaku tidak masalah dengan kebatakanku. Jadinya pada saat itu aku lebih nyaman bergaul di komunitas Cina daripada pribumi. Aku pun selalu menghindar dari punguan naposo marga dan menghindar di setiap pembicaraan-pembicaraan tentang Batak.

Jadilah aku anak muda Batak yang terlepas dari akarnya. Sok menjadi orang Amerika. Padahal orang Amerika sendiri tidak menganggap aku bagian dari mereka. Mengambanglah aku ditengah-tengah Seperti rumput Danau Toba yang putus dari akarnya. Mengapung-apung di permukaan air terbawa arus. Kadang dia terbawa ke Balige, kadang terbawa ke Tongging, kadang terbawa ke Pangururan, sampai lama kelamaan busuk sendiri.

Selepas SMA, aku menjadi pemain band kafe di bilangan kemang dan menteng dan sangat fanatik dengan lagu-lagu barat modern, yang kemudian rekaman album pop/rock Indonesia.

Di tahun 2000, ayahku minta aku untuk mengaransemen lagu Batak “Anakku Na Burju”. Jelaslah kutolak mentah-mentah. Setauku lagu Batak itu sangatlah kampungan. Dengan pembagian suara “do mi sol”, selalu bervibrasi over dan melengking, kord apa adanya, dan hal-hal jelek lainnya. Mendengarnya saja aku sudah mau muntah. Kalau aku bikin lagu Batak, apa kata dunia nanti… bisa malu lah aku. Namun ayahku tetap membujuk-bujuk terus tanpa henti-hentinya. Aku baru mau mengerjakannya setelah di janjikan ayahku akan di belikan peralatan rekaman digital yang baru, digital Sequencer Roland VS-880. Maka kukerjakanlah aransemen lagu “Anakku Na Burju” dengan malas-malasan. Tak pernah kudengarkan hasil aransemen itu setelah selesai. Namun ayahku sangat menyukainya. CDnya itu diputarnya berulang-ulang di kantor dan di mobil.

Di tahun 2001, ayahku dengan Yayasan Perhimpunan Pencinta Danau Toba (YPPDT) membuat suatu konser musik “Save Lake Toba” dalam rangka kampanye lingkungan Danau Toba yang sudah rusak. Mereka membuat konsep konser musik untuk anak muda. Dimintanyalah aku sebagai music directornya. Kembali aku menolak habis-habisan. Apa kata kawan-kawanku nanti, si Viky konser lagu Batak. Matilah aku!

Karena dibujuk terus oleh ayahku dan show directornya, Toni Sianipar, akhirnya akupun mau menerima jabatan itu dengan syarat dibayar secara professional. Mulailah aku mengeksplor lagu Batak dengan perasaan jijik pada awalnya.

Lagu pertama yang kubuat adalah “O Tano Batak”. Aku tau ini lagu kebangsaannya orang Batak. Kubuatlah lagu itu dengan irama Rock sebagai rasa protesku, dengan harapan aku langsung dipecat. Ternyata dugaanku salah. Mereka malahan menyukainya (Itulah aransemen O Tano Batak di TobaDream 1).

Dengan jengkel ku kerjakan lagi lagu kedua yaitu “Tano Toba”-nya Christine Panjaitan. Aransemen seperti ini yang diperdengarkannya padaku. Mendengarkan intronya saja aku sudah tertawa terbahak-bahak. Dengan semangat protesku kubuatlah aransemennya sesuai seleraku. Aku tidak memikirkan maksud dan tujuan lagu tersebut. Setelah mendengar hasilnya, mereka kembali suka sekali dengan aransemennya, malahan jadi terharu. (aransemen Tano Toba itulah yang juga ada di Tobadream1).

Aku jadi bingung. Begitu juga lagu karo “Terang Bulan” yang kubikin sedikit kocak dan “bluesy”. Amang Tarkelin Tarigan, salah satu produser konser “Save Lake Toba” sangat menyukainya. Usahaku supaya dipecat gagal total. Lanjutlah aku mengerjakan lagu-lagu yang lain sebanyak 18 buah lagu.

Aku jadi stress dan jadi bosan mengaransemen lagu Batak. Untuk menghindari kebosanan, aku minta ikut berangkat dengan tim audio visual yang hendak membuat video footage ke Danau Toba. Aku sudah sering ke Danau Toba sewaktu kecil namun hanya seputar Parapat dan Tuktuk. Kali ini kami pergi ke Sidikalang, Tele, Simanindo, Simarjarunjung, dan Tongging. Selama perjalanan itu barulah kulihat Danau Toba yang sebenarnya. Betul-betul aku takjub akan keindahannya.

Di Tongging, kami naik ke satu bukit tertinggi disana. Tidak sembarang dapat naik kebukit itu. Kebetulan salah satu dari tim audio visual adalah menantu dari marga Silalahi, salah satu pemilik tanah di bukit tersebut. Jadi kami diperbolehkan naik keatas bukit dengan mengendarai mobil garden dobel.

Di puncak bukit yang sangat tinggi itu aku duduk sendirian. Dari sana, hampir seluruh danau indah itu kelihatan. Bahkan samar-samar aku dapat lihat pesisir pantai Balige. Sungguh menakjubkan. Aku memandang jauh ke bawah, ke huta Tongging yang tenang dan damai, seolah tidak perduli akan pergolakan dunia luar. Kubayangkan lah dulu nenek moyangku berjalan di bawah sana, bertani, bersendra gurau, martandang, dll. Sungguh mataku tak berkedip sedikitpun menatap pemandangan yang sungguh luar biasa indah itu. Barulah kutemukan pertama kali yang dapat dibanggakan dari orang Batak, yaitu keindahan kampungnya. Sayang teman-teman SDku itu tidak ada disini. Mereka pasti akan menyesal kenapa tidak dilahirkan sebagai orang Batak.

Sementara tim audio visual sibuk melakukan tugasnya, aku tetap duduk di puncak bukit itu seorang diri menikmati kampung halaman leluhurku yang menakjubkan itu. Sekilas terngiang alunan-alunan nada indah di benakku yang langsung memicuku untuk memainkan musik. Sayang aku tidak membawa alat musik apapun saat itu.

Barulah aku mengerti saat itu, mengapa banyak seniman besar lahir dari tempat ini. Danau Toba memang telah banyak menginspirasikan manusia-manusia besar Batak. Disanalah pertama kali timbul kebanggaanku menjadi orang Batak. Melalui alam yang indah, seakan Tuhan memberikan berkat yang luar biasa terhadap orang Batak. Kukira Tuhan hanya tersenyum waktu menciptakan tanah Sunda. Rupanya Dia menciptakan Danau Toba bahkan dengan tawa ceria.

Added by

Admin

SHARE